Thursday, April 21, 2011
ONKOGEN DAN GEN SUPRESOR TUMOR
Di dalam tubuh manusia telah diketahui terdapat 3 golongan gen pengatur pertumbuhan normal, yaitu:
1. Proto-onkogen (mutasi pada proto-onkogen ini yang paling sering).
2.Tumor supresor gen/anti-onkogen.
3. Gen yang mengatur kematian sel terprogram/Apoptosis
Banyak sekali teori tentang onkogen dan banyak pula gen-gen normal yang dapat berubah menjadi onkogen, yang disebut sebgai protoonkogen. Onkogen dihasilkan dari transduksi dari gen inang yang normal dan mewakili suatu sekuens DNA yang unik di mana ekspresi abnormal berhubungan dengan perkembangan perilaku sel maligna. Protoonkogen dapat teraktivasi menjadi onkogen melalui berbagai mekanisme, yaitu :
1. Insersi promoter
2. Insersi enhancer
3. Translokasi kromosom misalnya kromosom 9 dan 22 (kromosom Philadelphia) pada CML
4. Amplifikasi gen
5. Mutasi titik
Kelompok kedua yang berperan dalam mekanisme kejadian kanker adalah karena kegagalan fungsi gen penekan tumor, misalnya p53 dan Rb. Gen ini dapat menekan terjadinya kanker melalui 2 cara, yaitu menggunakan jalur kelompok protein yang mengelola dan mempertahankan DNA repair sehingga terhindar dari mutasi atau melalui jalur kelompok protein yang bertanggung jawab terhadap kematian sel dan cell cycle arrest. Jika terjadi kegagalan terapi dengan menggunakan sasaran onkogen sebagai suatu target, maka perlu dipertimbangkan adanya keterlibatan gangguan fungsi tumor suppressor gen tersebut.
Sunday, August 15, 2010
pErSAHABATan
Bacalah dengan teliti..
Pernah ada anak lelaki dengan watak buruk.
Ayahnya memberi dia sekantung penuh paku, dan menyuruh memaku satu batang paku
di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabarannya atau berselisih paham dengan orang lain.
Hari pertama dia memaku 37 batang di pagar. Pada minggu-minggu berikutnya
dia belajar untuk menahan diri, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari.
Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri daripada memaku di pagar.
Friday, August 13, 2010
Graft Celah Alveolar
Defek celah alveolar biasanya tidak dikoreksi pada saat tindakan labioplasty atau palatoplasty ( perbaikan primer) sehingga akan menimbulkan adanya fistula orornasal pada daerah tersebut. Hal ini akan menimbulkan beberapa masalah antara lain : cairan dari rongga mulut akan lolos ke dalam rongga hidung, sekresi hidung akan mengalir ke rongga mulut, erupsi gigi kedalam celah, segmen alveolar collepse , dan jika celah lebar akan mempengaruhi suara (Peterson, 2003).
Download Graft Celah Alveolar
Download Graft Celah Alveolar
Thursday, August 12, 2010
PENDIDIKAN
LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah
tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.
Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah
diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal
dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia
tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya
mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk,
logikanya sangat sederhana.
tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.
Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah
diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal
dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia
tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya
mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk,
logikanya sangat sederhana.
Friday, June 25, 2010
Hemapneumothoraks
Rongga dada berisi organ vital paru dan jantung. Paru terdiri dari paru kanan dan paru kiri. Paru kanan terdiri dari tiga lobus : superior, medius, dan inferior. Lobus-lobus tersebut dipisahkan oleh fissura, fissure minor(horizontal) memisahkan lobus superior dengan medius. Fissura mayor (obliq)memisahkan lobus inferior dengan lobus medius dan superior. Paru kiri hanya terdiri dari dua lobus yaitu superior dan inferior. Jaringan paru dibentuk oleh jutaan alveolus yang mengembang dan mengempis tergantung mengembang dan mengecilnya rongga dada.
Download HemoPneumothoraks
Download HemoPneumothoraks
Wednesday, March 31, 2010
cEDERA sARAF tRIGEMINUS
Cedera Nervus Trigeminus pada daerah maksilofasial biasanya terjadi akibat fraktur fasialis, selama terapi neoplasma atau ketika tindakan rekonstruksi. Untungnya sebagian besar dari cedera tersebut pulih dengan sendirinya. Namun demiklian sebagian ada yang memerlukan terapi akibat gangguan yang persisten pada saraf sensorisnya (Peterson, 1998).
Tiga cabang saraf trigeminus yang paling sering terkena cedera dan mengalami perubahan sensasi yang cukup bermakna secara klinis adalah nervus mentalis, nervus lingualis dan nervus infraorbital.
Tiga cabang saraf trigeminus yang paling sering terkena cedera dan mengalami perubahan sensasi yang cukup bermakna secara klinis adalah nervus mentalis, nervus lingualis dan nervus infraorbital.
Trigeminal neuralgia
Trigeminal neuralgia sudah dikenal dan tertulis dalam kepustakaan medis sejak abad ke 16. Kepustakaan lama disebut juga dengan tic douloureux karena nyeri sering menimbulkan spasme otot wajah pada sisi yang sama sehingga pasien tampak meringis atau tic convulsive. Trigeminal neuralgia merupakan suatu kumpulan gejala yang ditandai dengan serangan sakit yang hebat secara mendadak disertai spasme wajah dalam waktu singkat. (Rose et al, 1997 ; Sharav, 2002)
REAKSI JARINGAN TERHADAP KELAINAN DAN TRAUMA MUSKULOSKELETAL (KONTRAKTUR)
Kontraktur
Apabila terjadi pemendekan otot dalam jangka waktu tertentu, maka dapat terjadi kontraktur otot. Kontraktur juga dapat terjadi akibat penyakit – penyakit tertentu, misalnya pada poliomielitis, muskular distrofi dan cerebral palsy.
Apabila terjadi pemendekan otot dalam jangka waktu tertentu, maka dapat terjadi kontraktur otot. Kontraktur juga dapat terjadi akibat penyakit – penyakit tertentu, misalnya pada poliomielitis, muskular distrofi dan cerebral palsy.
Teknik vestibuloplasty
Resobsi linggir alveolaris, perlekatan dari mukosa dan otot yang menggangu dari stabilisasi dan retensi protesa, dan jumlah serta kualitas jaringan cekat yang tidak memadai membutuhkan bedah jaringan lunak bahkkan bisa juga diikuti dengan augmentasi tulang .
Vestibuloplasti adalah suatu tindakan memperdalam sulkus vestibulum. Prosedur memperdalam sulkus untuk rahang atas atau bawah biasanya dibutuhkan oleh sulkus yang sangat rendah sehinggga protesa tidak stabil.
Vestibuloplasti adalah suatu tindakan memperdalam sulkus vestibulum. Prosedur memperdalam sulkus untuk rahang atas atau bawah biasanya dibutuhkan oleh sulkus yang sangat rendah sehinggga protesa tidak stabil.
Saturday, January 2, 2010
Infeksi Nasokomial
Menurut Pelczar dan Chan (1988), kata nosokomial berasal dari bahasa Yunani yang berarti di dalam rumah sakit, jadi infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat sewaktu berada di rumah sakit.
Brachman dalam Bennet dan Brachman (1992) mengatakan, bahwa infeksi nosokomial adalah infeksi yang berkembang di rumah sakit atau disebabkan oleh mikroorganisme yang didapat selama berhubungan dengan rumah sakit. Infeksi nosokomial tidak hanya melibatkan pasien rumah sakit tetapi siapa saja yang berhubungan dengan rumah sakit, seperti para staf rumah sakit, pengunjung, pengantar ataupun pedagang di dalam rumah sakit.
Brachman dalam Bennet dan Brachman (1992) mengatakan, bahwa infeksi nosokomial adalah infeksi yang berkembang di rumah sakit atau disebabkan oleh mikroorganisme yang didapat selama berhubungan dengan rumah sakit. Infeksi nosokomial tidak hanya melibatkan pasien rumah sakit tetapi siapa saja yang berhubungan dengan rumah sakit, seperti para staf rumah sakit, pengunjung, pengantar ataupun pedagang di dalam rumah sakit.
chondrosarcoma

Chondrosarkoma adalah sebuah tumor ganas yang berkarakteristik dengan adanya formasi kartilago, bukan pada tulang. Chondrosarkoama merupakan tumor sel spindel tulang nomor dua yang paling sering terjadi.
Tumor ini berkisar 10% dari seluruh tumor primer dari skeleton, tetapi yang menyerang tulang rahang sangat jarang, kurang lebih 1% dari seluruh chondrosarkoama yang timbul pada daerah kepala dan leher. Chondrosarkoma membentuk suatu grup tumor yang heterogen yang basik neoplastik jaringanannya adalah cartilago tanpa adanya bukti formasi osteoid. Kadang-kadang formasi tulang terjadi dari differensiasi kartilago jika ada bukti keterlibatan osteoid atau produksi tulang lesi tersebut diklasifikasikan sebagai osteosarkoma. Terdapat lima tipe chondrosarkoma yaitu central, periperal, mesenchymal, differentiated, clear sel.
Chondrosarkoma klasik merupakan central (timbul dalam tulang atau peripheral (timbul dari permukaan tulang). Tiga lainnya bervariasi dan mempunyai karakteristik histologik dan klinis yang jelas.
Chondosarkoma central dan peripheral dapat timbul sebagai tumor primer atau sekunder untuk mendasari neoplasma. 76% Chondrosarkoma timbul secara sentral. Chondrosarkoma primer paling sering timbul dari benign cartilago tumor. Bentuk multipel dari osteochondroma atau enchondroma mempunyai rate yang lebih tinggi dari transformasi malignansi dibandingkan lesi yang menyendiri.
download chondrosarkoma
Friday, January 1, 2010
Close & Open Reduction Treatment for Facial Fracture

Fraktur fasial sangat bervariasi keparahannya, ada yang melibatkan satu tulang atau beberapa tulang yang kompleks, tergantung derajat kekuatan impak yang mengenai fasial. Fraktur fasial dapat mengakibatkan deformitas dan hilangnya fungsi wajah yang mempengaruhi kehidupan sosial penderita (David, 1995)
Trauma fasial lebih sering disebabkan kecelakaan kendaraan bermotor, trauma olah raga, jatuh dan kekerasan atau perkelahian. Fraktur mandibula merupakan satu-satunya fraktur tulang fasial dengan rata-rata insidensi sekitar 70%, dari jumlah tersebut sekitar 15 % selalu diikuti dengan fraktur yang lain. Fraktur mandibula dapat digolongkan dalam berbagai cara terminologi yang belum distandarisasi, yaitu fraktur simple, compound, greenstick, comminuted, patologis, multiple, impaksi, atropik, indirek dan kompleks, tetapi ada yang menggolongkan fraktur mandibula berdasarkan regio anatomi yang terlibat, seperti: simfisis, body, angle, ramus, prosesus kondiloideus (kondilus), koronoideus dan alveolaris (Fonseca, 1999)
Rata-rata terjadinya fraktur mandibula sekitar 1,5-1,8 juta orang di USA, sekitar 53% menderita fraktur unilateral, 37% fraktur bilateral dan sisanya sebanyak 9% menderita fraktur multiple (Tawfilis, 2002)
Perawatan
Perawatan fraktur mandibula dapat dilakasanakan dengan metode terbuka maupun tertutup. Indikasi metode terbuka maupun tertutup telah berubah secara dramatis pada abad terakhir ini, kemampuan merawat fraktur dengan metode terbuka dan fiksasi rigid internal (ORIF) juga telah berubah secara dramatis pula terutama dalam pendekatan bedahnya (Barrera, 2002; Tawfilis, 2002 ).
Metode tertutup dan terbuka dengan wire osteosynhesis membutuhkan pemakaian fiksasi intermaksiler (IMF) rata-rata selama 6 minggu untuk penyembuhan fraktur yang memuaskan. Kesulitan timbul akibat lamanya pemakaian IMF termasuk masalah airway, nutrisi yang buruk, kehilangan berat badan, kesehatan mulut yang buruk, kesulitan berbicara, insomnia, kehidupan sosialnya menjadi tidak nyaman, kehilangan pekerjaan, kesulitan mengembalikan pembukaan mulut menjadi normal kembali (Tawfilis, 2002).
Kebalikannya, penggunaan fiksasi rigid atau semi rigid pada fraktur mandibula bisa memperoleh mobilisasi lebih awal dan fungsi rahang kembali normal, airway terkontrol, status nutrisi lebih baik, pasien masih dapat berbicara, kesehatan mulut lebih baik, pasien lebih nyaman dan dapat segera kembali bekerja (Tawfilis, 2002).
Komplikasi
Komplikasi yang terjadi selama perawatan fraktur mandibula jarang terjadi. Komplikasi yang dapat terjadi pada fraktur mandibula sebagai berikut (Goldman, 2002; Barrera, 2002; Widell, 2001)
- Delayed union dan nonunion
- Infeksi
- Malunion
- Ankilosis sendi temporomandibula
- Trauma saraf alveolar inferior dan cabang-cabangnya
Wednesday, December 30, 2009
Deteksi Dini Kanker Rongga Mulut
Tumor merupakan suatu benjolan atau pembengkakan. Namun istilah tumor sekarang ini diterapkan hanya untuk massa neoplastik. Tumor adalah pertumbuhan baru dari suatu jaringan yaitu terjadi multiplikasi sel yang tidak terkontrol dan bersifat progesif .
Neoplasma dapat dibedakan berdasarkan sifatnya menjadi neoplasma jinak (benigna) dan neoplasma ganas (maligna). Kanker adalah istilah umum untuk menunjukkan neoplasma ganas.Tumor ganas memiliki karesteristik yang berbeda dengan tumor jinak, tumor ini tumbuh dengan cepat, tidak berkapsul sehingga tidak tumbuh dipisahkan dari sekitarnya dapat menyusup kejaringan sekitarnya, tidak berguna bagi tubuh, maupun melepaskan diri dari tumor induk (tumor primer) dan memasuki sirkulasi untuk menyebar ketempat lain membentuk tumor sekunder, sel-selnya berdiferensiasi (anaplastik).
Tumor ganas rongga mulut adalah tumor yang berada di rongga mulut. Semua jaringan dirongga mulut dapat terkena. Dari tumor ganas yang menyerang tubuh kurang lebih 2-6% terjadi di rongga mulut. Tumor ganas rongga mulut secara histologis dibagi dua : Tumor ganas yang berasal dijaringan epitel disebut karsinoma sedangkan yang berasal dari jaringan pendukung atau mesenkhim disebut sarkoma.
Deteksi dini keganasan adalah mengenali atau mencurigai tumor ganas rongga mulut tahap awal secara klinis dan mendiagnosa tumor ganas rongga mulut tahap dini pada kasus-kasus yang belum menimbulkan keluhan (asimtomatik) atau dalam tahap yang masih bisa disembuhkan.Mendeteksi tumor ganas rongga mulut pada manifestasi klinisnya yang paling dini sangat penting, karena terdapat hubungan antara kelangsungan hidup dan tahap penyakit pada waktu diagnosa ditegakkan (The Cancer Information,2003 ).
Tanda umum keganasan (ACS,2003;Cancer Group,2003;The Wisdom,2003).
Gejala awal suatu neoplasma sukar ditentukan secara pasti karena adanya masa laten belum manifestasi klinis suatu tumor dapat dideteksi. Pada masa dini bentuk kelainan masih kecil, belum meluas ke jaringan sekitarnya dan biasanya masih dapat diobati secara efektif .
American Cancer Society telah membuat formulasi yang mudah diingat untuk mendeteksi beberapi jenis tumor tertentu secara dini. Formulasi ini disebut “Delapan Tanda Peringatan Kanker Dini” yaitu :
-Perubahan dalam kebiasaan defekasi dan berkemih.
-Luka tidak dapat sembuh.
-Pendaraha atau mengeluarkan cairan yang tidak lazim.
-Penebalan atau benjolan dibuah dada atau tempat lain.
-Gangguan pencernaan atau sukat menelan.
-Perubahan pada kutil atau tahi lalat.
-Batuk hebat atau suara serak.
-Bercak merah pada mukosa mulut.
Tanda-tanda dini keganasan pada rongga mulut ( Cancer Group,2003 ).
Untuk mendeteksi tumor ganas secara dini, selain delapan formasi yang disebut diatas, perlu diperhatikan pula tanda-tanda yang biasa ditemukan pada tumor ganas rongga mulut seperti berikut ini :
-Ulserasi atau erosi
-Terjadi karena kerusakan epitel sehingga mempengaruhi proses mutasi sel, hilangnya pelekatan interseluler, dan gangguan pada laminal basal.
-Eritema
Tanda kemerahan yang menunjukkan adanya inflamasi, menipisnya epitel dan hilangnya keratinisasi.
-Indurasi;
Pengerasan terjadi karena peningkatan jumlah sel epitel dan proses inflamasi.
-Fiksasi;
Pembelahan sel yang abnormal akan menginfasi struktur yang lebih dalam sampai keotot dan tulang.
-Kronisitas;
Tumor ganas bukan penyakit yang dapat sembuh secara spontan, oleh karena itu lasi keganasan secara normal tidak akan hilang tanpa terapi.
-Lympadenopati;
Pengerasan dengan atau tanpa pembesaran kelenjar regional terjadi karena penyebaran sel neoplastik melalui pembuluh lymph.
Neoplasma dapat dibedakan berdasarkan sifatnya menjadi neoplasma jinak (benigna) dan neoplasma ganas (maligna). Kanker adalah istilah umum untuk menunjukkan neoplasma ganas.Tumor ganas memiliki karesteristik yang berbeda dengan tumor jinak, tumor ini tumbuh dengan cepat, tidak berkapsul sehingga tidak tumbuh dipisahkan dari sekitarnya dapat menyusup kejaringan sekitarnya, tidak berguna bagi tubuh, maupun melepaskan diri dari tumor induk (tumor primer) dan memasuki sirkulasi untuk menyebar ketempat lain membentuk tumor sekunder, sel-selnya berdiferensiasi (anaplastik).
Tumor ganas rongga mulut adalah tumor yang berada di rongga mulut. Semua jaringan dirongga mulut dapat terkena. Dari tumor ganas yang menyerang tubuh kurang lebih 2-6% terjadi di rongga mulut. Tumor ganas rongga mulut secara histologis dibagi dua : Tumor ganas yang berasal dijaringan epitel disebut karsinoma sedangkan yang berasal dari jaringan pendukung atau mesenkhim disebut sarkoma.
Deteksi dini keganasan adalah mengenali atau mencurigai tumor ganas rongga mulut tahap awal secara klinis dan mendiagnosa tumor ganas rongga mulut tahap dini pada kasus-kasus yang belum menimbulkan keluhan (asimtomatik) atau dalam tahap yang masih bisa disembuhkan.Mendeteksi tumor ganas rongga mulut pada manifestasi klinisnya yang paling dini sangat penting, karena terdapat hubungan antara kelangsungan hidup dan tahap penyakit pada waktu diagnosa ditegakkan (The Cancer Information,2003 ).
Tanda umum keganasan (ACS,2003;Cancer Group,2003;The Wisdom,2003).
Gejala awal suatu neoplasma sukar ditentukan secara pasti karena adanya masa laten belum manifestasi klinis suatu tumor dapat dideteksi. Pada masa dini bentuk kelainan masih kecil, belum meluas ke jaringan sekitarnya dan biasanya masih dapat diobati secara efektif .
American Cancer Society telah membuat formulasi yang mudah diingat untuk mendeteksi beberapi jenis tumor tertentu secara dini. Formulasi ini disebut “Delapan Tanda Peringatan Kanker Dini” yaitu :
-Perubahan dalam kebiasaan defekasi dan berkemih.
-Luka tidak dapat sembuh.
-Pendaraha atau mengeluarkan cairan yang tidak lazim.
-Penebalan atau benjolan dibuah dada atau tempat lain.
-Gangguan pencernaan atau sukat menelan.
-Perubahan pada kutil atau tahi lalat.
-Batuk hebat atau suara serak.
-Bercak merah pada mukosa mulut.
Tanda-tanda dini keganasan pada rongga mulut ( Cancer Group,2003 ).
Untuk mendeteksi tumor ganas secara dini, selain delapan formasi yang disebut diatas, perlu diperhatikan pula tanda-tanda yang biasa ditemukan pada tumor ganas rongga mulut seperti berikut ini :
-Ulserasi atau erosi
-Terjadi karena kerusakan epitel sehingga mempengaruhi proses mutasi sel, hilangnya pelekatan interseluler, dan gangguan pada laminal basal.
-Eritema
Tanda kemerahan yang menunjukkan adanya inflamasi, menipisnya epitel dan hilangnya keratinisasi.
-Indurasi;
Pengerasan terjadi karena peningkatan jumlah sel epitel dan proses inflamasi.
-Fiksasi;
Pembelahan sel yang abnormal akan menginfasi struktur yang lebih dalam sampai keotot dan tulang.
-Kronisitas;
Tumor ganas bukan penyakit yang dapat sembuh secara spontan, oleh karena itu lasi keganasan secara normal tidak akan hilang tanpa terapi.
-Lympadenopati;
Pengerasan dengan atau tanpa pembesaran kelenjar regional terjadi karena penyebaran sel neoplastik melalui pembuluh lymph.
Monday, December 28, 2009
Lindungi Hati Anda

Walaupun hepatitis virus merusak hati kita jelas kita ingin agar
hati tetap dilindungi, jadi sebaiknya kita membicarakannya
dengan dokter, dan mempertimbangkan yang berikut:
-Minta divaksinasikan terhadap hepatitis A dan B bila belum
ada antibodi terhadapnya.
-Jangan memakai alat bergantian:
-alat dan perlengkap suntikan, termasuk jarum, semprit,
sendok, kapas, air, sedotan;
-sikat gigi, alat cukur, alat kuku, benda lain yang dapat
menahan darah.
-Coba mengurangi atau menghentikan penggunaan alkohol.
Alkohol meningkatkan risiko menjadi sirosis dan kanker
hati secara bermakna.
-Bila kita mempunyai HBV atau HCV kronis, kita sebaiknya
mencari dokter yang memahami hepatitis virus. Bila kita
mempertimbangkan terapi, yang terbaik adalah pendekatan
tim, termasuk spesialis hati, spesialis HIV atau penyakit
dalam, dan psikiater.
-Periksa ke dokter secara berkala, termasuk pemeriksaan
enzim hati. Catat hasil tes yang penting – enzim hati, viral
load, genotipe.
-Makan diet yang seimbang dengan sayuran segar, buahbuahan,
buncis, daging tidak berlemak.
-Kurangi makanan dengan kandungan garam, gula atau lemak
yang tinggi: keju, makanan cepat, gorengan, dan makanan
dikelola (biskuit, kue, makanan kemas dengan kadaluwarsa
panjang, makanan instan).
-Makan protein secara seimbang – kelebihan protein dapat
menambah tekanan pada hati.
-Minum banyak cairan – terutama air – untuk membilas
racun dari tubuhnya.
-Berolahraga teratur dan membuat rencana untuk
mengurangi stres.
-Asetaminofen (obat penawar rasa sakit non-aspirin),
terutama dengan dosis tinggi (2.000mg per hari), dapat
meracuni hati. Asetaminofen dikandungkan dalam banyak
macam obat, jadi baca etiket dengan seksama. Asetaminofen
dan alkohol bersama dapat menyebabkan kerusakan hati
yang berat.
-Hindari vitamin A, D, E dan K dengan dosis tinggi.
-Rempah dan jamu yang kadang kala dipakai untuk
meningkatkan kesehatan hati termasuk: milk thystle
(silymarin), temu lawak, astralagus, dandelion, bupleuru,
bawang putih, akar likoris, artichoke, asem tioktik (alfalipoik),
dan ginkgo biloba. Semua zat, termasuk jamu, dapat
menyebabkan efek samping dan dapat berinteraksi dengan
obat lain yang dipakai, termasuk ARV.
-Hindari rempah yang diketahui meracuni hati: peppermint,
mistletoe, teh yerba, sassafras, germander, chaparral, skull cap,
pala, valerian, Jin Bu Juan, comfrey (teh bush), pennyroyal,
dan tansy ragwortsenna.
-Jangan memakai tambahan zat besi kecuali diusulkan oleh
dokter – zat besi berlebihan dapat menambah beban pada
hati.
Treatment for Dry socket

In dentistry, a dry socket is a layman's term for alveolar osteitis. The alveolus is the part of the jawbone that supports the teeth, and osteitis means simply “bone inflammation”. It is an irritation of the bone open to the oral cavity after the loss of or premature disintegration of the blood clot.
Alveolar osteitis is a painful phenomenon that most commonly occurs a few days following the removal of mandibular (lower) wisdom teeth. It occurs when the blood clot within the healing tooth extraction site is disrupted. In rare cases, the removal of the upper wisdom teeth can also result in alveolar osteitis.
The pain from alveolar osteitis usually lasts for 24–72 hours. There is no real treatment for dry socket — it is a self-limiting condition that will improve and disappear with time — but certain interventions can significantly decrease pain during an episode of dry socket. These interventions usually consists of a gentle rinsing of the inflamed socket followed by the direct placement within the socket of some type of sedative dressing, which soothes the inflamed bone for a period of time and promotes tissue growth. This is usually done without anesthesia.[4] The active ingredients in these sedative dressings usually include natural substances like zinc oxide, eugenol, and oil of cloves. It is usually necessary to have this done for two or three consecutive days, although occasionally it can take longer. Because true dry socket pain is so intense, additional analgesics are sometimes prescribed.
Saturday, December 26, 2009
Treatment of Dental Infections

A toothache is a minor infection of the tissues inside and surrounding a tooth. If not treated promptly and effectively, infections in the jaws and face can develop into life-threatening emergencies. Pain and swelling in the face, jaws, or neck very often indicates an infection of dental origin. For minor infections, evaluation and treatment are done in our office. For more severe infections, appropriate imaging studies and antibiotic sensitivity tests may be needed. For both minor and severe infections, our treatment may include antibiotics, drainage of infectious fluid, and sometimes extraction of involved teeth.
Injuries to the Teeth

Isolated injuries to teeth are quite common. Children often sustain damage to teeth during falls, sports, and skateboarding or bicycle accidents. Such traumatic injuries can usually be effectively treated in our office, avoiding the inconvenience and cost of an emergency room visit. In order to repair teeth which have been displaced or "knocked out," we carefully repositioning the teeth and splint the teeth until they are healed. Splinting stabilizes the unstable teeth by securing them to the adjacent healthy teeth for several weeks.
If a permanent tooth is "knocked out", it should immediately be placed in cold milk, or better yet, back into the socket (We don’t typically attempt replantation of baby teeth). The sooner the tooth is re-inserted into its socket, the better for the survival of the tooth. The patient should be seen in our office as soon as possible. Although gentle rinsing is advisable, never attempt to wipe the tooth off, since the living cells of the tooth ligament may be injured or killed, lessening the success of replantation. After the acute treatment in our office, we may call upon other dentists such as an endodontist, who may be asked to perform root canal therapy, or a restorative dentist, who may need to repair or rebuild fractured teeth. In the event that injured teeth can not be saved or repaired, dental implants are typically utilized to replace traumatically lost teeth.
Treatment for Dental and Facial Trauma

Oral and Maxillofacial Surgeons are uniquely qualified and experienced to manage and treat dental and facial trauma. Although most injuries are minor and are most easily and conveniently treated in our care, should the injury be severe enough to require treatment in an operating room. For children, various sedation techniques can be employed to deliver comfortable and safe treatment for injuries.
When soft tissue injuries such as lacerations occur on the face, they are typically repaired by placing sutures (stitches). In addition to our goal of the best cosmetic result possible, care is taken to inspect for and treat injuries to such key structures as facial nerves and saliva glands and ducts.
Fractures of the bones of the jaws and face are treated in a manner similar to the fractures in other parts of the body. When an arm or a leg is fractured, a cast is often applied to stabilize the bone and allow for proper healing. Since a cast cannot be placed on the face, we stabilize the fracture by wiring the jaws together. More severe fractures of the jaw are best treated and stabilized by the surgical placement of small bone plates and screws at the involved site. This allows a patient to return to normal function more quickly.
Subscribe to:
Posts (Atom)

